Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
0

Mimpi Seorang Ayah Untuk Keluarga

Wildan Sabtu, 09 April 2016
Mimpi Seorang Ayah Untuk Keluarga ~ Halo Wanita.  Hari ini kerja yang di alami Abduh begitu sangat melelahkan. Ditambah cuaca yang tidak bersabahat dengannya. Lengkaplah sudah kelelahan yang dirasa Abduh hari ini. Hari sudah menunjukkan pukul 14 lewat 35 menit. Perutnya belum diisi menu makanan siang. Mungkin karena kerjaan yang serba tanggung belum terselesaikan. "Akh...satu lucuran untuk satu batang pohon ini aku akan istirahat"...bathin berkata.

Mimpi Seorang Ayah Untuk Keluarga

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15 lewat 5 menit pekerjaan itu baru terselesaikan. Akhirnya Abduhpun membuka ransum untuk menyantap makan siangnya. Selesai makan siang, Abduh sudah tak sanggup untuk beristirahat karena ngantuknya sudah sangat berat. Lalu disandarkannya badanya yang kerempeng di dinding pondok di tengan hutan di pinggir kali.

Abduhpun terlelap dalam tidurnya yang lelah. Dalam tidurnya Diapun bermimpi:
Abduh sekarang sudah berada di tengah-tengah keluarga kecilnya. Dia bersama dua anak perempuannya berserta isteri tercinta sedang makan malam bersama di sebuah meja makan sederhana. Suasana saling berbagi walau dengan keadaan seadanya sangat terasa. Tidak ada lauk makanan yang berbeda dengan apa yang dimakan Abduh dengan keluarganya, semua sama. Sehabis makan Abduh rencananya mau mengajak jalan-jalan bersama di sebuah Mall. Karena sejak dulu Abduh ingin jalan bersama keluarganya seperti yang dialami keluarga lain. Akh, tentu sangat membahagiakan bukan?.  Abduh akan membelikan baju bagus untuk kedua putrinya dan tidak lupa akan membelinya tas yang baik untuk isteri tercintanya.

Mimpi sederhana tersebut membawa Abduh sampai sore harinya. Dan dia kembali ke Base Camp untuk istirahat malam. Tapi Abduh akan merealisasikan mimpinya tadi jika cutinya akan tiba kelak.
0

Dusta Putih Dari Surga

Wildan Sabtu, 19 Desember 2015
Dusta Putih Dari Surga ~ Halo Wanita. Hari ini cuaca panas sekali. Seorang ibu tua sambil sesekali melap keringatnya yang menetes. Jam sudah menunjukan pukul 14 lewat 15 menit. Sebentar lagi si Ani anaknya yang bungsu akan tiba dari sekolahnya.  Tak lama kemudian terdengar tapak kaki kecil memasuki ruangan tengah. Ternyata si Ani langsung membuka hidangan makan siang sambil bertanya...

Dusta Putih Dari Surga

"Mama sudah makan belum" tanya Ani pada ibunya. 
"Ahk..mama masih kenyang, makan aja dulu" jawab sang ibu yang dari tadi asik melipat baju yang habis disetrikanya.
Tak lama setelah membersihkan tangannya si Ani langsung mengambil piring kosong yang ada di rak tak jauh dari ruang makan.
Terdengar suara aktvitas makan siang dan si Ani pun larut dalam menikmati hidangan yang dibuat ibunya.
"Ibu...lauknya Ani habiskan ya.?" Tanya Ani kepada ibu.
"Habiskan saja sayang" jawab sang ibu dengan penuh rasa sayang.
Padahal Ani tidak mengetahuinya...bahwa lauk tersebut adalah satu-satunya lauk yang dapat dibeli sang ibu untuk makan siangnya...dan, Ani tidak mengetahui bahwa ibunya belum ada makanan yang masuk dalam perutnya sejak sarapan tadi pagi...
Namun juga si Ani tidak mengetahuinya bahwa sang ibu sudah sering berdusta hanya untuk menyenangkan dirinya...bahkan si Ani tidak mengetahui bahwa sang ibu sering makan hanya dengan garam yang diberi air atawa dengan kecap saja...Akh Ani...

0

Kerinduan Hati Seorang Ayah

Wildan Jumat, 11 September 2015
Kerinduan Hati Seorang Ayah ~ Halo Wanita.  Hujan sepertinya enggan berhenti malam hari ini.  Ia masih setia menemani seseorang yang lagi rindu pada keluarganya yang nun jauh di sana.  Rasa dingin menyelimuti tubuhnya yang sudah berusia 40-an.  Terbayang ketika cuti lebaran bulan kemarin ia masih bersama dengan kedua anaknya yang masih lucu-lucu.  Ada rasa bangga ketika ia dipanggil manja dengan sebutan "Ayah".  Bahkan ia tidak mengeluh ketika sang kakak naik di atas pundaknya untuk bermain-main dengan sang adik.  Akh...terlalu indah untuk cuma dikenang.  "Andai di sini sudah tersedia jaringan telpon, pasti sudah sejak tadi ku telpon mereka. Rinduku pada mereka sepertinya mau meledak bagaikan bom Bali", keluhanya dalam hati.  Dikeluarkannya selembar foto dari dompet pemberian isterinya sewaktu ulang tahunnya yang ke 35 tahun.  Disitu nampak dua orang gadis berumur antara sepuluh-belasan tahunan.  Dipandangnya dengan pandangan nanar yang sarat dengan rindu.  Tak terasa ada air yang jatuh dari matanya.  "Sabar ya Nak, ayah akan pulang empat bulan lagi" gumannya dalam hati....

Rintihan Hati Seorang Ayah

Suara jangkrik dan kodok seperti sudah sangat akrap menemani keseharian tidurnya. Hujan masih setia menemani bapak tua yang sekarang terlelap dalam tidurnya. Ia tertidur di dalam sebuah camp dalam hutan belantara rimba Papua.  Ia berharap sebelum tidur tadi agar dapat betemu dalam mimpi dengan kedua puterinya yang masih lucu-lcu tersebut. Ia tidak meminta emas kepada Tuhannya saat ini. Yang bapak itu minta adalah bertemu dan bisa bercengkrama dengan keluarganya Hanya itu. Tidak lebih...

adsense

 
Copyright 2010 Informasi Paling Akurat